Terjepret Gandeng Anak Barack Obama, Inilah Sosok Rory Farquharson, Mahasiswa Cerdas nan Misterius

Meski ayahnya sudah berstatus mantan Presiden Amerika Serikat, tapi Malia Obama, putri sulung Barack Obama, tetap saja tak bisa hidup lepas seperti anak muda lainnya.

Ke mana pun dia pergi, paparazzi dan fotografer selalu mengejarnya.

Termasuk, ketika ia terekam kamera sedang berjalan sambil dirangkul seorang pria saat mendatangi Konser Beyonce Knowles, di Paris, Senin (16/7/2018).

Lalu, siapa sosok pria yang terjepret tengah merangkul mesra Malia Obama?

Pria itu adalah Rory Farquharson.

Sebetulnya, Rory bukan sosok yang baru bagi Malia Obama.

Keduanya dikenal berpacaran sejak setahun lalu.

Mengenal Rory, berikut 5 fakta soal sang calon menantu Barack Obama :

1. Si Cerdik Pandai

Situs The List menganggap Rory sebagai anak muda yang pintar secara akademik.

Itu karena Rory tercatat sebagai mahasiswa Harvard University.
Sudah jadi rahasia umum, hanya orang-orang yang kepandaiannya di atas rata-rata bisa masuk kampus ini.

Rory Farquharson
Rory Farquharson (The Telegraph, CREDIT: ANDREW FOX )

Untuk lolos, calon mahasiswa harus punya bekal nilai cukup, selain melewati tes mahasulit.
Mengikuti jejak ayahnya, Rory masuk ke jurusan Hukum di kampus bergengsi tersebut.
2. Si Perokok Berat
Rory sering terfoto tengah merokok, ketika jalan bersama Malia.
Mahasiswa asal Inggris ini bahkan diduga yang mengajari Malia merokok, saat anak Obama itu terjepret paparazzi sedang merokok, beberapa saat lalu.
Meski perokok, Rory dikenal sebagai mahasiswa penyuka olahraga.
Dia bermain rugby di Harvard.
Rory juga dikenal sebagai mahasiswa yang punya selera bagus ketika berpakaian.

Tak Tahan Digoblok-goblokin, Kader Hanura Hijrah ke Nasdem

Sejumlah anggota DPR Fraksi Partai Hanura mendaftar jadi calon legislatif 2019 lewat Partai Nasdem. Hal itu disampaikan oleh politikus Hanura yang juga pindah, Dadang Rusdiana.
Alasan terkuat pindah adalah karena konflik internal di Hanura yang belum juga selesai antara kubu Oesman Sapta Odang dan Syarifuddin Sudding.
"Pertama kan ada konflik internal di Hanura yang sampai sekarang belum selesai. PTUN memutuskan kubu Sudding yang menang, kubu kami. Kemudian itu tidak dieksekusi oleh Kemenkumham. Itu kan menjadi konflik," kata Dadang di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa, 17 Juli 2018.
Dadang menyampaikan para kader yang pindah merasa tidak nyaman jika terus berada di bawah kepemimpinan Oso. Menurut dia, lebih baik pindah jika terus berada di pusaran konflik.
"Politisi itu kan dipilih masyarakat, punya kedudukan kuat di masyarakat. Tapi kalau tiba-tiba kami misalkan di DPP, sebagai petinggi partai dianggap enggak punya peran apa-apa, digoblok-goblokin, siapa yang tahan kan. Kan itu jadi masalah," ujar Dadang.
Mengenai pilihannya ke Nasdem, Dadang mengaku punya kesamaan pikiran dengan partai itu. Nasdem juga dinilai punya basis yang kuat saat menang di Pemilihan Kepala Daerah lalu.
"Kalau menang atau tidak kan tergantung kitanya. Kita elektabilitasnya kuat atau enggak. Tapi kan artinya kami sudah enggak berpikir mahar segala macam, kami nyaman aja," kata Dadang.
Selain dirinya, Dadang menyampaikan sejumlah nama yang menyeberang ke Nasdem. Seperti Arif Suditomo, Fauzih Amro, Rufinus Hotmaulana Hutauruk, dan juga Dossy Iskandar. (ase)